PEMALANG – (Media Rakyat). (13/11/ 2016)
Ratusan prajurit Korps Marinir akan melaksanakan kegiatan di Kota Pemalang.
Prajurit Korps Baret Ungu yang datang dari Jakarta ini akan melaksanakan ziarah
ke TMP Jayana Sureng Yudha di desa Penggarit, untuk selanjutnya kirab kota
dengan berjalan kaki dimulai dari Kecamatan Pemalang dan finish di pendopo
Pemkab Pemalang.
Di antara beberapa daerah yang
berada di kabupaten Pemalang, Penggarit adalah salah satu yang paling banyak
disebut sebagai basis perjuangan Corps Mariniers (CM) Corps Armada (CA) IV yang
merupakan embrio dari Korps Marinir TNI AL saat ini. Di desa yang terkenal
sebagai desa perjuangan ini, berdiri dengan megah Taman Makam Pahlawan (TMP)
Jayana Sureng Yudha, inilah saksi bisu perjuangan para pendahulu Korps Marinir
saat menghadapi Belanda pada masa perjuangan kemerdekaan.
Penggarit sebagai basis perjuangan
prajurit Korps Marinir jaman dulu diawali dari peristiwa 19
Desember 1948 saat
Belanda melacarkan kembali Agresinya di Indonesia dengan menyerbu secara
membabi buta kota Jogyakarta. Saat itu, pasukan Corps Mariniers (CM) Corps
Armada (CA) IV yang diperbantukan ke Divisi III Diponegoro yang dikenal dengan
sebutan Resimen Samudera baru saja selesai konsolidasi dengan menyusun kembali
dari sistem Batalyon ke sistem Group. Sebagai Komandan Resimen Samudera Pasukan
CA IV adalah Mayor R. Soehadi dengan wakil sekaligus merangkap Perwira Operasi
Kapten Ali Sadikin. Dalam perintah koordinasinya dari MBKD (Markas Besar
Komando Djawa) melalui Divisi III Diponegoro bahwa pasukan Corps Mariniers yang
tergabung dalam Resimen Samudra tersebut agar segera meninggalkan daerah
Temanggung Parakan dan merebut serta menguasai daerah yang disebut dengan “Sub
Wehrkraise Slamet-V (SWKS V)” meliputi Pemalang - Pekalongan hingga Batang.
Pada
Desember 1948, pasukan SWKS V segera melakukan “wingate action” yakni gerakan
perembesan menuju daerah yang menjadi tanggungjawabnya dipimpin langsung Mayor
R. Suhadi. Pergerakan pasukan ini melewati berbagai daerah pedalaman dan juga
pegunungan mulai gunung Sundoro, Prau, R o g o j e m b a n g a n hingga Gunung
Slamet. Pada Januari 1949 seluruh pasukan SWKS V telah sampai di daerah Wa t u
k u m p u l Pemalang Selatan di kaki Gunung Slamet. Disinilah terjadi pertempuran sengit antara para
pejuang dengan tentara Belanda yang selanjutnya terkenal dengan sebutan
Pertempuran Watukumpul.
Setelah pertempuran
Watukumpul, pasukan Corps Mariniers CA IV/ Pasukan SWK.S V Grup A, meninggalkan
daerah pertahanannya menuju daerah Simpang Tiga, kemudian memasuki daerah
Wonoroto. Di sini jembatan besar sungai Wonoroto telah diledakkan untuk
menghambat gerakan maju tentara pendudukan Belanda.
Di Karangpucung,
Kebubungan daerah Wonoroto, Kapten Ali Sadikin Perwira Operasi CA IV/ Pasukan
SWK.S V yang sekaligus menjabat sebagai Komandan Sektor, bertugas untuk mengawasi
aktivitas Grup A dalam gerakannya menghadapi tentara pendudukan Belanda.
Pimpinan Grup A masih dipegang oleh Letnan Moch. Junus dengan mendapatkan
beberapa tenaga inti seperti Santoso (Pwa. Satu), Soemardi P (Ketua Divisi), J
Soejoe (Ketua Divisi), Soetjipto Hadi (Dan Bak), Sg. Soemarso (Dan Ru), Djapar
(DanRu), D Soedjono dan lain-lain.
Beberapa
kegiatan penting Grup A untuk melancarkan perang gerilya di daerah Pemalang antara
lain membersihkan pasukan Belanda di desa Beji dan melakukan penyergapan
patroli Belanda di desa Jatibarang pada bulan Februari 1949, melakukan
penjerbuan pertama ke kota Pemalang dan penghadangan konvoi Belanda di Padeksan
pada bulan Maret 1949, dan melakukan pertempuran dalam rangka Gerakan
Pembersihan Tentara Pendudukan Belanda I, II, dan III yang dilakukan hampir
secara berurutan antara daerah Randudongkal dan Pangiringan pada bulan Maret
1949.
Pada
akhir Maret 1949, Pasukan CM Grup A menempatkan kekuatan induknya di desa
Penggarit, Pemalang untuk konsolidasi dan menyusun kekuatan baru guna
menghadapi serangan besar-besaran tentara Belanda yang mengejar para gerilyawan
hingga ke daerah pegunungan. Kosentrasi pasukan CM di Penggarit ini pada
akhirnya tercium Belanda sehingga pada bulan April 1949, tentara Belanda dengan
kekuatan pasukan yang cukup besar menyerbu Penggarit dengan menggelar operasi
pembersihan kampung Penggarit. Pertempuran pun meletus dengan sengitnya dari
pagi hingga petang hari. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Namun
menjelang sore hari Belanda menarik mundur pasukannya karena melihat korban di
pihaknya lebih banyak. Belanda mundur dengan membawa kekalahan berupa korban
jiwa dan perlengkapan militer yang
banyak dihancurkan pasukan CM CA IV. Selain Penggarit, dua daerah lain yang
diserbu Belanda yakni Wirodeso dan Petarukan juga dapat dipertahankan berkat
bantuan pasukan Grup A CM CA IV.
Tujuan
Belanda pada saat itu memang berusaha menggunakan kesempatan untuk mendapatkan
“daerah” yang lebih luas sebelum diberlakukannya perintah gencatan senjata. Akan
tetapi pada akhirnya tujuan mereka kandas di tengah jalan berkat kegigihan Pasukan
Grup A CM CA IV dalam mempertahankan daerah perjuangannya. (TIM/MR/99)


