Slawi (Media Rakyat)- Desa Semedo Kecamatan Kedungbanteng tempat banyak ditemukanya fosil-fosil purbakala akhirnya dibangun Musium. Peletakan batu pertama pembangunan Musium dilaksanakan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Profesor Dr Kacung Marijan Phd, bersama Bupati Tegal Enthus Susmono, Kamis (30/4). yang dihadiri jajaran Kementerian Kebudayaan bersama anggota Forkompinda Kabupaten Tegal serta Dinas Pariwisata dan Kebudayan Pemkab Tegal.
Dirjen Kebudayaam Profesor Dr Kacung mengungkapkan bahwa pembangunan museum itu akan berlangsung selama dua tahun dengan anggaran APBN sebesar Rp 20 miliar dari. Sedangkan untuk anggaran display dan interior, dialokasikan sebesar Rp 10 miliar. Sehingga total anggaran dari APBN untuk pembangunan museum situs Semedo itu, sebanyak Rp 30 miliar.
"Dalam pembangunan ini, Pemda juga memiliki kontribusi besar. Termasuk pembebasan tanah dan lahan parkir," kata Kacung,
Kacung menambahkan bahwa museum yang berdiri diatas tanah seluas 10.582 meter persegi itu, akan dilengkapi dengan ruang laboratorium dan tempat display fosil. Rencananya, museum itu tidak hanya untuk belajar ilmu tentang manusia purbakala, tapi bisa digunakan untuk pentas seni budaya maupun pentas lainnya yang berkaitan dengan seni.
"Pada prinsipnya, museum ini untuk pusat pendidikan," ujarnya.
Bupati Tegal Enthus Susmono menjelaskan bahwa fosil-fosil yang ditemukan di Desa Semedo jumlahnya tidak sedikit. Hingga kini, sudah tercatat sebanyak 3.642 buah. Jenisnya beragam, antara lain, Stegedon Spesies, Elephas-Spesies (sejenis gajah purba), Rhinoceros (badak purba), Suidae (babi), dan sejumlah jenis fauna. Menurut Enthus, usia fauna Semedo dapat disejajarkan dengan fauna-fauna tua yang berada di Cisaat atau di Satir yang usianya mencapai 1,5 tahun. Situs Semedo ini merupakan situs manusia purba yang paling akhir ditemukan.
"Situs ini telah memberikan data tentang evolusi manusia, budaya dan lingkungan sejak 1,5 juta tahun yang lalu," kata Enthus.
Enthus mengeklaim, situs Semedo ini lebih tua dari situs di Sangiran. Terbukti, fosil yang kali pertama ditemukan di Semedo, usianya sekitar 1,5 juta tahun dan 700.000 tahun yang lalu. Fosil vertebrata itu ditemukan kali pertama oleh Dakri, warga Desa Semedo, pada bulan Juni 2005 silam. Fosil kemudian dilaporkan ke Pemda yang selanjutnya diteliti oleh Badan Arkeologi Yogyakarta. "Rencananya, museum Semedo ini terdiri dari 6 bangunan," sambung Enthus.
Keenam bangunan itu antara lain, Museum 1, Museum 2, ruang penyimpanan (storage), ruang pengelola museum, laboratorium, dan ruang perpustakaan. Untuk tahap satu dimulai dengan sasaran pembangunan fisik museum 1 dan 2 dengan alokasi anggaran Rp 9,5 miliar. Proyek pembangunan itu dilakukan oleh PT Karya Shinta Manarito, dengan konsultan pengawas PT Wahana Prakarsa Utama dan Konsultan Perencana PT Hardja Moekti Konsultan.
"Untuk pembebasan lahan, dilakukan oleh Pemda dengan dana dari APBD II," jelas Enthus.
Pembebasan lahan seluas 10.582 meter persegi itu, menurut Enthus, dianggarkan sekitar Rp 582 juta. Sedangkan untuk pembebasan lahan parkir seluas 5.545 meter persegi, sebesar Rp 831,7 juta. Selain itu, Pemda juga melakukan pembebasan lahan untuk jalan menuju museum. Termasuk juga pembangunan jembatan di sekitar lokasi museum.
"Kontribusi Pemda dalam pembangunan museum, cukup banyak," pungkasnya. (Tim MR)