| Walikota Tegal berikan sambutan Halal Bi Halal |
TEGAL - (Media Rakyat). Prihatin dengan meningkatnya perpecahan antar umat beragama ,
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tegal dan Pengurus Daerah
Muhammadiyah Kota Tegal mengadakan halal bi halal dan silahturahim di
Gedung Adipura, Kompleks Balaikota Tegal, Senin (3/8). Acara dihadiri
Walikota Tegal KMT Hj. Siti Masitha Soeparno, Habib Thohir bin Abdullah,
K.H M. Ibrohim, KH. Hisyam Adnan, KH Nurcholis Plt. Sekda Dyah Kemala
Shinta, Asisten pemerintahan Drs. Imam Badarudin, SH, MH beserta jajaran Pemerintah Kota Tegal dan Pengurus NU dan Muhammadiyah.
Ketua Panitia Dr. H. Abdal Hakim Tohari, Sp. RM.MMR dalam sambutanya
mengatakan pelaksanaan halal bi halal ini didasari atas kondisi
kerukunan umat beragama yang memprihatinkan pada sepuluh tahun terakhir.
Menurutnya ancaman perpecahan umat beragama disebabkan masalah seperti
perbedaan pendapat yang dibesar-besarkan dan rendahnya toleransi antar
umat beragama. Sebagai generasi pewaris NU dan Muhamadiyah kita
diharapkan meniru keteladanan yang ditunjukan pendiri NU K.H. Hasyim
Ashari dan Pendiri Muhamadiyah K.H Achmad Dahlan, yang mengunakan
strategi yang berbeda dalam mengembangkan syariat Islam di Indonesia,
namun tidak pernah mempersoalkan perbedaan, ungkapnya. Menurut H.
Nadirin Maskha Ketua Pengurus Daerah Muhamadiyah Kota Tegal mengatakan
sangat bangga sekali dengan kegiatan ini. “Banyak SMS yang masuk ke saya
bilang jangan hanya sebatas halal bi halal tetapi bisa lanjut ke
pangajian bersama,” Disebutkannya, perbedaan antara NU dan Muhammadiyah
tidak perlu dipersoalkan tetapi justru kita satukan bersama-sama.“Jika
shof kita kuat kita akan menjadi orang yang kuat, tidak akan bisa
ditembus apapun” katanya.
Walikota Tegal KMT Hj. Siti Masitha Soeparno dalam sambutannya
mengatakan adanya momen silahturahim ini dapat mempererat Ukhuwah
Islamiyah antar umat Islam di Kota Tegal sehingga kekuatan sosial
masyarakat yang berlandaskan agama semakin kokoh. Walikota juga
mengapresiasi kegiatan ini mengingat NU dan Muhammadiyah merupakan
organisasi terbesar dengan jumlah massa terbanyak di Indonesia termasuk
di Kota Tegal. Halal bi halal ini membuat tegaknya kesatuan umat Islam,
apalagi sekarang ini sering beredar isu yang berpotensi memecah
kerukunan. Diharapkannya, peran NU dan Muhamadiyah dapat mengatasi
persoalan-persoalan tersebut. Saya bersyukur sejauh ini Kota Tegal aman
dan kondusif dari kelompok-kelompok berbahaya ,ini tidak bisa lepas dari
peran tokoh agama yang menjadi benteng bagi keutuhan umat,” ungkap
Walikota.
Persoalan pembakaran Wihara di Tanjung balai,sangat disayangankan
karena melukai kedamaian Perilaku SARA ini bukti toleransi yang semakin
tipis yang bisa menyebabka gesekan umat beragama. Karena itu Walikota
mengajak tokoh masyaraat, tokoh agama,dan pimpinan organisasi keagamaan
baik Islam dan non Islam untuk menjaga kerukunan umat beragama Kota
Tegal. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Tegal juga telah
melakukan langkah antisipasi sebagai upaya mitigasi dampak kerusuhan di
Tanjung Balai. Diakhir sambutannya Walikota Tegal mengajak seluruh
peserta untuk menjaga iklim kondusif dengan merajut silahturahim dan
rasa persaudaraan baik muslim dan non musslim.
Habib Tohir bin Abdullah Al Kaff dalam ceramah nya mengatakan gembira
dengan bersatunya umat Nabi Muhammad dan menganggap hari tersebut
sebagai hari raya sebenarnya. “Hari ini (Rabu, red) adalah hari raya
yang sebenarnya, karena begitu menggembirakan ketika melihat umat Nabi
Muhammad bersatu, momentum ini merupakan tanda persatuan umat Islam akan
kembali sebagaimana yang diperintahkan Nabi Muhammad,” ucap Habib Tohir
juga mengingatkan jangan sampai masalah kecil membuat perpecahan,
diawali dengan halal bi halal ini diharapkan kedepan akan ada rumah
sakit atau sekolah yang dikelola bersama NU dan Muhamdiyah, pungkasnya.
Sebagai bentuk permohonan maaf kedua organisasi yang diwakili Ketua
DPC NU dan Ketua DPD Muhamadiyah melakukan adegan saling menyuapkan
Sagon sebagai simbol permohonan maaf dan kerukunan dilanjutkan penukaran
lambang NU dan Muhamadiyah. Dalam kesempatan itu, Budayawan Tegal Atmo
Tan Sidik menguraikan filosofi sagon, makanan khas Tegal yang wajib
hadir saat Lebaran di masa lalu. Atma meminta Ketua Muhammadiyah dan
Ketua PBNU Kota Tegal untuk saling suap-suapan sagon dihadapan hadirin
peserta halal bi halal. “Filosofinya kalau makan sagon itu dengan
main-main makan anda tersedak. Artinya harus ada keseriusan dalam
mengurai masalah dan kesalahan,” ungkap Kepala BNN Kabupaten Brebes. (Daryani/MR/99)