| Drs. Abdul Fikri Faqih saat memberikan sambutan |
TEGAL- (Media Rakyat). Salah satu kota yang terletak diwilayah pesisir pantura dan memiliki
berbagai macam jenis usaha ekonomi kreatif yaitu Kota Tegal. Tegal memang
terkenal dengan warteg-nya, dimana para pelaku usaha tersebut sudah tersebar
dipelosok nusantara. Ada juga industri logam yang menjadikan Tegal dikenal
dengan sebutan Jepangnya Indonesia.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih
mengatakan ketika di Jakarta sering ingat Tegal, sebab secara makro Pemerintah saat
ini mengandalkan sumber daya ekonomi dari sektor sumber daya alam seperti
minyak, gas dan batubara. Menempati urutan berikutnya yang saat ini cenderung
naik adalah sektor pariwisata, kemudian disusul ekonomi kreatif.
“Ekonomi kreatif yang ada di Tegal sangat banyak. Ini sudah
menjadi watak orang Tegal yaitu sebagai pelaku usaha”, katanya dalam acara workshop
peningkatan kapasitas pelaku usaha ekonomi kreatif yang diselenggarakan Badan
Ekonomi Kreatif (Bekraf) di Hotel Karlita, kemarin (9/3)
Sosok yang pernah memimpin sekolah menengah kejuaruan
ini juga mengatakan bahwa saat anak didik melakukan praktek, tidak dalam ruang
praktek. Namun langsung diterjunkan ke lapangan, yaitu di jalan cempaka yang
dulu pusat industri logam.
“Potensi logam di Tegal sangat luar biasa, sehingga
Tegal dikenal Jepangnya Indonesia. Apapun jenis produk yang terbuat dari logam,
maka orang bisa membuat produk tersebut”, ungkap Fikri
Potensi lain yang dimiliki Kota Tegal yakni makanan
(kuliner), dari sisi penampilan dan rasa tidak kalah dengan produk lain. Ada
berbagai jenis kuliner, ada sate, teh poci, tahu aci, kupat dan sebagainya
Sementara itu, Abdul Fikri Faqih berharap produk ekonomi
kreatif asli Tegal dan sudah menjadi ikon yaitu logam dengan sentuhan seperti
workshop dan pelatihan dapat membangkitkan kembali pelaku ekonomi kreatif baik
yang baru mulai usaha maupun yang lama. “ Ini adalah momentum untuk
membangkitkan kembali, jika ada opsi lain seperti kuliner maka pelaku usaha
perlu dibina dari awal”, pungkasnya. (Daryani/MR/99).