INDONESIA, 3 November 2017 – (Media Rakyat). Perilaku kehidupan manusia terus berubah. Teknologi yang
mempermudah interaksi antar manusia hingga pemenuhan kebutuhan selalu menjadi
tolak ukur kemajuan. Saat ini era manusia sudah sampai di tahap digitalisasi.
Pertukaran Informasi adalah kunci dari era digital ini. Pada era digital pemegang informasi adalah pemenang. Informasi
ini bisa berupa data pribadi hingga data besar setingkat Negara. Informasi yang
disalah-gunakan dapat berakibat fatal. Namun sayangnya kesadaran tentang
keamanan atas data dan informasi ini masih rendah.
Pada
24 oktober 2017 Fortinet 361° Security – Asia Pacific bertempat di Grand Hyatt
Jakarta, Edwin Lim sebagai Direktur dari Fortinet Indonesia membuka dan
memberikan pembukaan atas acara ini. Edwin mengatakan bahwa acara ini akan
memberikan pemahaman tentang cyber security
dan solusi atas kehidupan masa ini dan masa depan. “Konferensi ini juga
memberikan wawasan berharga dan kesempatan memperluas jaringan bagi para
peserta yang hadir” tambah Edwin. Pada acara ini juga Pratama Persadha sebagai Keynote Speaker memberikan
penjelasan tentang bahayanya dunia di era digital jika tidak diimbangi dengan
keamanan. Pratama Persadha adalah kepala dari CISSReC (Communication
& Information System Security Research Center). Ia berpendapat bahwa kesadaran atas keamanan Cyber dan
digital informasi berawal dari pandangan bahwa ancaman ini belum ada di depan
mata. Padahal menurutnya bahaya dari penyalahgunaan data, pencurian data dan
informasi, hingga kelumpuhan sistem sudah banyak terjadi. Menurut Pratama peretasan sistem lebih mematikan
daripada Nuklir. “Kalau di Bom misalnya Jakarta, mungkin yang lumpuh hanya satu
kota saja. Tapi kalau diretas satu Negara misalnya semua sistem dan komputernya
mati? Berhenti semua”. Ia melanjutkan “ atau kalau Rumah Sakit yang diretas.
Itu alatnya kan pakai sistem semua? Coba bayangkan berapa korban yang jatuh?”.
Bahaya di era Digital sudah bukan lagi sebagai wacana namun telah menjadi
ancaman yang nyata. Tetapi keamanan digital dan Cyber Security masih dianggap sebelah mata.
|
|
|
Pratama Persadha kepalai
CISSReC (Communication & Information System Security Research
Center)
|
Dalam
tataran pribadi perilaku berhati – hati dalam membagi informasi menjadi
penting. Literasi seperti tidak mengetuk (klik)
tautan yang tidak jelas, mengabaikan pesan singkat yang bernada penipuan,
hingga mengurangi penyimpanan data pribadi yang sensitif pada free cloud
services bisa menjadi solusi jangka
pendek. Tetapi peran para ahli yang memiliki pengetahuan lebih tentang keamanan
Cyber harus lebih dilihat. Apalagi dalam tataran yang lebih tinggi seperti
Perusahaan, Bisnis, hingga Pemerintahan.
|
Alvin Rodrigues Chief Security Strategist, Fortinet,
Asia Pacific.
|
Dalam
sesi yang lain Alvin Rodrigues Chief Security Strategist,
Fortinet, Asia Pacific juga mengutarakan hal yang
sama. Ia ingin menggugah kesadaran tentang perilaku digital yang terlalu
sembrono. Transformasi perilaku pribadi,
komunitas, dan bisnis mau tidak mau harus dilakukan karena dunia telah
bergerak. Jika tidak ingin tertinggal maka kita harus ikut bergerak dengan
cepat dan tepat. “You need the perfect
people to guide you through your transformation journey”. Pemilihan solusi yang tepat untuk bertransformasi adalah kunci nyata
untuk dapat bertahan di Dunia yang kini lebih berbahaya. Kini pertanyaannya “sudah amankah anda?’’
jika belum, “apa yang bisa anda lakukan?” dan “dengan siapa anda dapat
bertahan?”. (TIM/MR/99)
