TEGAL-(Media Rakyat), pada hari selasa 9 agustus 2016 bertempat di
Gedung Adipura Komplek Pemerintah Kota Tegal, telah berlangsung acara
yang dikemas dalam sebuah talkshow yaitu Safari Gerakan Nasional Gemar
Membaca. Kegiatan ini merupakan bagian dari program revolusi mental yang
dicanangkan oleh pemerintah, perpustakaan menempati posisi yang
strategis melalui penyelenggaraan pelayanan dan budaya baca sangat erat
hubungannya dengan revolusi mental. Acara ini resmi dibuka secara
langsung oleh Walikota Tegal, KMT, HJ Siti Masitha Soeparno. Kegiatan
tersebut berlangsung mulai pukul 09.00-12.30 WIB, diikuti sebanyak 200
peserta yang terdiri dari; masyarakat umum, guru/kepala sekolah,
pemerhati perpustakaan dan budaya baca, pengelola berbagai jenis
perpustakaan, mahasiswa, siswa SMA, SMK Negeri/Swasta, PKK, karang
taruna, perwakilan media cetak dan elektronik, perwakilan DPRD Kota
Tegal. Dalam sambutannya Walikota mengajak seluruh masyarakat untuk
lebih mencintai membaca. Saya ingin menyemangati semua hadirin, untuk
lebih cinta membaca. Sebab tidak ada satupun daerah yang maju sepanjang
sejarah, dan tidak ada peradaban yang terhebat sekalipun kecuali karena
masyarakatnya gemar membaca ajaknya Walikot juga menegaskan Kalau kita
ingin Kota Tegal maju dengan segala kualitasnya, maka kuncinya adalah
dengan membaca”. Untuk mewujudkan dan menggerakkan kegemaran membaca,
maka unsur penggeraknya pun harus terpenuhi dan bekerja sebaik-baiknya.
Unsur tersebut meliputi seluruh masyarakat, para stakeholder dan
pemangku amanah. Safari gerakan nasional gemar membaca di kota tegal
mengangkat tema membangun karakter bangsa melalui gemar membaca, dengan
memberdayakan perpustakaan. Kegiatan positif semacam ini diharapkan
dapat dipertahankan terus setiap tahunnya. Bila perlu ada duta baca di
setiap tingkatannya, mulai dari anak-anak hingga mahasiswa. Guru, tokoh
masyarakat dan putra-putri daerah yang berprestasi, misalnya atlet
olahraga, dan para seniman juga bisa diajak sebagai penyambung lidah
untuk mengkampanyekan gerakan gemar membaca.
Sesungguhnya banyak sekali ruang, pranata sosial dan kearifan budaya
yang bisa dimanfaatkan untuk menyukseskan gerakan membaca. Misalnya,
melalui pemanfatan tempat ibadah dan balai budaya yang dapat diisi
dengan bahan bacaan yang berkualitas, dengan bahasa pengantar bahasa
indonesia maupun bahasa daerah. Kalau kita ingin dikenal oleh bangsa
lain, maka kita dulu yang harus mengenal daerah kita. Manfaatkan tulisan
hasil karya putra-putri daerah kota tegal yang dapat menjadi sarana
belajar dan mengenal daerah. Kita perlu prihatin karena secara umum
minat baca penduduk indonesia masih kurang, jika dibandingkan dengan di
negara lain. Dari survey yang dilakukan pada 65 negara, terungkap,
indonesia berada pada peringkat ke-63. Kenyataan ini tentu menunjukkan
masih rendahnya minat baca masyarakat. Namun demikian, melalui upaya
pengembangan perpustakaan sebagai sarana belajar, diharapkan sangat
membantu mewujudkan manusia indonesia yang cerdas. Kita tahu bahwa
anak-anak khususnya generasi masa kini sangat tertarik dengan tayangan
televisi dan internet sebab tampilan yang disajikan memang sangat
variatif. Untuk itu sangat penting bagi kita untuk juga bergerak dinamis
misalnya dengan mengenalkan teknologi e-book atau buku elektronik, atau
juga buku-buku yang dikemas dengan gambar dan packaging menarik.
Terkadang, cover atau sampul sebuah buku menarik minat orang untuk
membaca dan mengetahui seperti apa isi buku tersebut. Ini penting
khususnya bagi anak-anak sebab bagi mereka, sesuatu yang warna-warni
begitu menarik perhatian. Mewujudkan manusia yang berkualitas, tidak
cukup dengan belajar, tapi harus juga ditambah dengan kebiasaan membaca.
Hal ini juga telah didukung dengan program gerakan membaca 10 menit
sehari yang dicanangkan kemendikbud tahun 2015 lalu, sebagai salah satu
upaya pemerintah untuk meningkatkan minat baca di kalangan generasi
muda.
Selanjutnya kepada para pengelola perpustakaan dan taman bacaan saya
harapkan agar ke depannya pengelolaan perpustakaan dan taman bacaan di
kota tegal dapat terus meningkat kualitasnya. Dengan kualitas
perpustakaan dan taman bacaan yang baik serta strategi pengelolaan
perpustakaan yang tepat maka minat baca masyarakat juga dapat
ditingkatkan dari waktu ke waktu. Pengurus perpustakaan harus kreatif
dan dinamis serta peka terhadap pergerakan teknologi dan kemajuan jaman
sehingga bisa menciptakan inovasi agar anak-anak kita dan masyarakat
tertarik untuk datang ke perpustakaan. Perpustakaan seharusnya menjadi
rujukan pertama untuk mencari informasi. Oleh karena itu mari kita
jadikan momen ini titik tolak bagi masyarakat Kota Tegal untuk semakin
mengenal perpustakaan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat ilmu
dan informasi. Paparnya.
Dalam sambutan Kepala Perpusnas RI yang dibacakan oleh Dra. Woro Titi
Haryanti, MM, menyampaikan bahwa Perpusnas RI telah melakukan kajian
bahwa Negara Indonesia masuk dalam peringkat 108 dari 187 Negara di
dunia. Peringkat ini lebih rendah dari lima Negara ASEAN lain seperti :
Singapura (peringkat 26), Brunei (peringkat 33), Malaysia (peringkat
61), Thailand (peringkat 103) dan Filipina (peringkat 112). Menyadari
potensi bangsa Indonesia sangat besar apabila ditinjau dari jumah
penduduknya kurang lebih 253,60 juta jiwa dari 17.504 pulau, yang
terdiri dari 1.340 suku bangsa dan 546 bahasa, yang memiliki beraneka
ragam budaya yang perlu dikembangkan dan dilestarikan. Oleh karenanya
program revolusi mental yang dicanangkan oleh pemerintah, perpustakaan
menempati posisi yang strategis untuk dapat serta berkontribusi dalam
penguatan mentalitas budaya kemandirian, mentalitas budaya gotong royong
dan mentalitas budaya pelayanan. Karena perpustakaan menyelenggarakan
program seperti pelayanan dan budaya baca sangat erat hubungannya dengan
revolusi mental. Melalui membaca dapat merubah pola pikir, membentuk
karakter dan meningkatkan semangat berkarya serta penguatan mentalitas
budaya.
Berlanjut acara talkshow yang dipandu oleh Kak Tedi dengan narasumber
talkshow ini meliputi Perpusnas RI, Dra. Woro Titi Haryanti, MM, Perpus
Provinsi Jawa Tengah SP. Andriani, SH , Komisi X DPR RI, Drs. Abdul
Fikri Faqih, MM dan Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah AT
Raharjo, Dalam menjawab pertanyaan pengelola Taman Bacaan Masyarakat
(TBM) Sakila Kerti, Yusqon tentang pemberdayaan warga belajar,
perpustakaan dan TBM sebagai pusat informasi dan harapan setelah
kegiatan ini akan menjadi apa bagi warga, Faqih juga menjelaskan bahwa
yang kita perlukan adalah aksi setelah kegiatan atau acara ini selesai
dan jadikan DPR sebagai mitra kerja serta bersama sama mewujudkan dan
meningkatkan minat baca bagi warga. Semoga dengan terselenggaranya
Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca ini menjadi momentum yang bisa
memotivasi kita semua untuk membaca. Dengan membaca, mari wujudkan
cita-cita, bersama-sama melangkah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Bangsa yang cerdas, maju, berkarakter, penuh kreativitas, inovatif, dan
berbudaya.tuturnya ( Daryani/MR/99)